NAMA :
WAHYU TRIONO
NPM
: 2C414160
KELAS : 3IC08
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan dunia otomotif yang
semakin pesat, menuntut industri otomotif untuk selalu mengedepankan kemajuan
teknologinya masing-masing. Supaya mampu mengikuti perkembangan tersebut maka
setiap industry terutama dibidang otomotif dituntut untuk melakukan terobosan
bahkan menemukan teknologi baru agar produk yang dihasilkan tidak memiliki
kenyamanan bagi konsumen. Sistem pengapian merupakan salah satu bagian utama
Dari setiap kendaran, mengingat fungsinya sangat berperan dalam pengoperasian
kendaraan. Pada umumnya kendaraan harus memiliki tenaga yang cukup untuk
bergerak tenaga tersebut dihasilkan dari sistem pembakaran pada kendaraan
sistem pembakaran sendiri terdapat sistem pengapian didalamnya.
1.2 Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui perbandingan antara
sistem pengapian CDI dan Platina sehinggaPengguna bisa memilih sistem mana yang
lebih bagus dan lebih mudah dalam pengguanannya dan tingkat efisiensinya
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Sistem Pengapian
pengapian bertujuan untuk
mengahasilkan arus listrik bertegangan tinggi untuk kebutuhan pembakaran
campuran bahan bakar dalam udara dalam ruangan bakar. Pada dasarnya rangkaian
pada sistem pengapian ada dua yaitu pengapian primer dan pengapian
sekunder.Pada rangkaian primer sistem pengapian mencakupseluruh komponen yang
bekerja dengan tegangan rendah, dari batrai atau alternator, sedangkan
rangkaian sekunder bekerja pada tengangan tinggiseperti pada komponen yang ada
setelah terminal outputkoil sampai pada masa busi.
2.2 Perbandingan
CDI dan Platina
Berikut ini adalah perbandingan jenis-jenis sistem
pengapian yang sering digunakan pada kendaraan di indonesia :
A. Sistem Pengapian CDI
Sistem pengapian CDI (Capacitor
Discharge Ignition ) merupakan pengembangan dari sistem pengapian
konvensional. Pada sistem ini ditambahkan komponen elektronik sehingga dikenal
dengan sebutan sistem pengapian elektronik, dan banyak digunakan pada kendaraan
sepeda motor.
Komponen utama Sistem pengapian CDI
adalah kumparan pengapian (charging generator), pembangkit pulsa (pulser
generator), dan unit pengendali (thyristor/SCR dan kapasitor). Charging
dan pulser generator dipasang pada unit generator motor. Sistem pengapian
CDIterbukti lebih menguntungkan dan lebih baik dibanding sistem pengapian
konven-sional (menggunakan platina).Dengan sistem CDI, tegangan pengapian yang
dihasilkan lebih besar (sekitar 40 KV) dan stabil sehingga proses pembakaran
campuran bensin dan udara bisa berpeluang makin sempurna Dengan demikian,
terjadinya endapan karbon pada busi juga bisa dihindari. Selain itu, dengan
sistem CDI tidak memerlukan penyetelan seperti penyetelan pada platina. Peran
platina telah digantikan oleh oleh thyristor sebagai saklar elektronik dan
pulser generator atau “pick-up coil” yang dipasang dekat flywheel generator
atau rotor alternator (kadang-kadang pulser generator menyatu sebagai bagian
dari komponen dalam piringan stator, kadang-kadang dipasang secara terpisah).
Cara kerja cdi yaitu Awalnya sebuah
pencatu daya akan mengisi muatan pada kondensator dalam bentuk arus listrik
searah sampai mencapai beberapa ratus volt. Selanjutnya sebuah pemicu akan
diaktifkan untuk menghentikan proses pengisian muatan kondensator, sekaligus
memulai metode pembuangan muatan kapasitor agar menghasilkan tegangan tinggi
untuk selajutnya dijadikan percikan api pada busi, ini dicapai dengan cara
menyimpan energi listrik pada kapasitor. Ketika timing pengapian sudah tepat
dan api siap dipercikkan, thyristor power akan aktif dan membentuk rangkaian tertutup
antara kapasitor dan kumparan primer koil.Kapasitor kemudian dengan cepat akan
melepaskan energinya melalui kumparan primer koil. Aliran arus yang sangat
cepat pada kumparan primer ini akan menyebabkan terjadinya tegangan yang sangat
tinggi pada kumparan sekunder. Lalu tegangan tinggi ini kemudian untuk
disalurkan ke busi untuk menghasilkan loncatan bunga api di antara elektroda
busi.
B. Sistem Pengapian Platina
Platina adalah salah satu komponen
pada sistem pengapian yang berfungsi untuk memutuskan hubungan tegangan dari
baterai atau accu menuju kumparan primer pada koil. Nah prinsip sederhana dari
platina ini sebenarnya sama seperti saklar, pada saklar tersebut ketika
terhubung maka ada suplai listrik menuju kumparan primer pada koil, kemudian
aliran listrik tersebut diputuskan agar menghasilkan induksi pada koil. yang
menggerakkan sakalr agar on of adalah cam atau nok secara mekanis yang menekan
bagian tumit dari platina pada waktu tertentu. Jadi platina tidak selamanya
membuka atau tidak selamanya menutup.
Cara kerja Platina yaitu Saat kunci
kontak on, kontak pemutus tertutup, arus dari terminal positif baterai mengalir
ke kunci kontak keterminal positif (+) koil, ke terminal negatif (-) koil, ke
kontak pemutus, kemudian ke massa. Aliran arus ke kumparan primer koil
menyebabkan terjadinya kemagnetan pada coil. Jika kontak pemutus terbuka, arus
yang mengalir ke kumparan primer terputus dengan tiba-tiba maka kemagnetan
disekitar koil hilang / drop dengan cepat. Kemudian kumparan terjadi tegangan
induksi. Karena saat kontak pemutus terbuka arus listrik terputus, maka medan
magnet pada koil hilang dengan cepat pada kumparan sekunder terjadi induksi
tegangan. Pada kumparan primer juga terjadi tegangan induksi. Tegangan induksi
pada kumparan sekunder disebut dengan tegangan induksi mutual sedangkan pada
kumparan primer disebut tegangan induksi diri. Tegangan tinggi pada kumparan
sekunder (10000 V atau lebih) disalurkan kedistributor melalui kabel tegangan
tinggi dan dari distributor diteruskan ke tiap-tiap busi sesuai dengan urutan
penyalaannya sehingga pada busi terjadi loncatan api pada busi. Tegangan pada
kumparan primer sekitar 300 sampai 500 V disalurkan ke kondensor. Penyerapan
tegangan induksi diri oleh kondensor ini akan mengurangi loncatan bunga api
pada kontak pemutus. Efek tidak terjadinya loncatan pada kontak pemutus adalah
pemutusan arus primer yang cepat sehingga menghasilkan perubahan garis-garis
gaya magnat pada koil dengan cepat pula.
|
Tabel Perbandingan Sistem Pengapian CDI dan Platina
|
|
|
Kelebihan Sistem Pengapian CDI
|
Kelebihan Sistem Pengapian Platina
|
|
|
|
Kekurangan Sistem Pengapian CDI
|
Kekurangan Sistem Pengapian Platina
|
|
|
BAB III
KESIMPULAN
3.1
Kesimpulan
Dari kesimpulan perbandingan diatas
setiap sistem pengapian memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,
semakin berkembangnya jaman maka semakin berkembang pula teknologi sehingga
membuat sistem pengapian menjadi lebih baik dan menjadi lebih mudah dalam
pengoprasiannya sehingga mempermudah konsumen
Sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar