Senin, 10 Oktober 2016

PERBANDINGAN CDI DAN PLATINA


NAMA            : WAHYU TRIONO
NPM               : 2C414160
KELAS           : 3IC08

BAB I
PENDAHULUAN    
              1.1       Latar Belakang
Perkembangan dunia otomotif yang semakin pesat, menuntut industri otomotif untuk selalu mengedepankan kemajuan teknologinya masing-masing. Supaya mampu mengikuti perkembangan tersebut maka setiap industry terutama dibidang otomotif dituntut untuk melakukan terobosan bahkan menemukan teknologi baru agar produk yang dihasilkan tidak memiliki kenyamanan bagi konsumen. Sistem pengapian merupakan salah satu bagian utama Dari setiap kendaran, mengingat fungsinya sangat berperan dalam pengoperasian kendaraan. Pada umumnya kendaraan harus memiliki tenaga yang cukup untuk bergerak tenaga tersebut dihasilkan dari sistem pembakaran pada kendaraan sistem pembakaran sendiri terdapat sistem pengapian didalamnya.     
              1.2       Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui perbandingan antara sistem pengapian CDI dan Platina sehinggaPengguna bisa memilih sistem mana yang lebih bagus dan lebih mudah dalam pengguanannya dan tingkat efisiensinya 
    
BAB II
PEMBAHASAN
2.1       Pengertian Sistem Pengapian
 pengapian bertujuan untuk mengahasilkan arus listrik bertegangan tinggi untuk kebutuhan pembakaran campuran bahan bakar dalam udara dalam ruangan bakar. Pada dasarnya rangkaian pada sistem pengapian ada dua yaitu pengapian primer dan pengapian sekunder.Pada rangkaian primer sistem pengapian mencakupseluruh komponen yang bekerja dengan tegangan rendah, dari batrai atau alternator, sedangkan rangkaian sekunder bekerja pada tengangan tinggiseperti pada komponen yang ada setelah terminal outputkoil sampai pada masa busi.
2.2  Perbandingan CDI dan Platina
Berikut ini adalah perbandingan jenis-jenis sistem pengapian yang sering digunakan pada kendaraan di indonesia :
A. Sistem Pengapian CDI 


Sistem pengapian CDI (Capacitor Discharge Ignition ) merupakan pengembangan dari sistem pengapian konvensional. Pada sistem ini ditambahkan komponen elektronik sehingga dikenal dengan sebutan sistem pengapian elektronik, dan banyak digunakan pada kendaraan sepeda motor.
Komponen utama Sistem pengapian CDI adalah kumparan pengapian (charging generator), pembangkit pulsa (pulser generator), dan unit pengendali (thyristor/SCR dan kapasitor).  Charging dan pulser generator dipasang pada unit generator motor. Sistem pengapian CDIterbukti lebih menguntungkan dan lebih baik dibanding sistem pengapian konven-sional (menggunakan platina).Dengan sistem CDI, tegangan pengapian yang dihasilkan lebih besar (sekitar 40 KV) dan stabil sehingga proses pembakaran campuran bensin dan udara bisa berpeluang makin sempurna Dengan demikian, terjadinya endapan karbon pada busi juga bisa dihindari. Selain itu, dengan sistem CDI tidak memerlukan penyetelan seperti penyetelan pada platina. Peran platina telah digantikan oleh oleh thyristor sebagai saklar elektronik dan pulser generator atau “pick-up coil” yang dipasang dekat flywheel generator atau rotor alternator (kadang-kadang pulser generator menyatu sebagai bagian dari komponen dalam piringan stator, kadang-kadang dipasang secara terpisah).
Cara kerja cdi yaitu Awalnya sebuah pencatu daya akan mengisi muatan pada kondensator dalam bentuk arus listrik searah sampai mencapai beberapa ratus volt. Selanjutnya sebuah pemicu akan diaktifkan untuk menghentikan proses pengisian muatan kondensator, sekaligus memulai metode pembuangan muatan kapasitor agar menghasilkan tegangan tinggi untuk selajutnya dijadikan percikan api pada busi, ini dicapai dengan cara menyimpan energi listrik pada kapasitor. Ketika timing pengapian sudah tepat dan api siap dipercikkan, thyristor power akan aktif dan membentuk rangkaian tertutup antara kapasitor dan kumparan primer koil.Kapasitor kemudian dengan cepat akan melepaskan energinya melalui kumparan primer koil. Aliran arus yang sangat cepat pada kumparan primer ini akan menyebabkan terjadinya tegangan yang sangat tinggi pada kumparan sekunder. Lalu tegangan tinggi ini kemudian untuk disalurkan ke busi untuk menghasilkan loncatan bunga api di antara elektroda busi.
B. Sistem Pengapian Platina
Platina adalah salah satu komponen pada sistem pengapian yang berfungsi untuk memutuskan hubungan tegangan dari baterai atau accu menuju kumparan primer pada koil. Nah prinsip sederhana dari platina ini sebenarnya sama seperti saklar, pada saklar tersebut ketika terhubung maka ada suplai listrik menuju kumparan primer pada koil, kemudian aliran listrik tersebut diputuskan agar menghasilkan induksi pada koil. yang menggerakkan sakalr agar on of adalah cam atau nok secara mekanis yang menekan bagian tumit dari platina pada waktu tertentu. Jadi platina tidak selamanya membuka atau tidak selamanya menutup.
Cara kerja Platina yaitu Saat kunci kontak on, kontak pemutus tertutup, arus dari terminal positif baterai mengalir ke kunci kontak keterminal positif (+) koil, ke terminal negatif (-) koil, ke kontak pemutus, kemudian ke massa. Aliran arus ke kumparan primer koil menyebabkan terjadinya kemagnetan pada coil. Jika kontak pemutus terbuka, arus yang mengalir ke kumparan primer terputus dengan tiba-tiba maka kemagnetan disekitar koil hilang / drop dengan cepat. Kemudian kumparan terjadi tegangan induksi. Karena saat kontak pemutus terbuka arus listrik terputus, maka medan magnet pada koil hilang dengan cepat pada kumparan sekunder terjadi induksi tegangan. Pada kumparan primer juga terjadi tegangan induksi. Tegangan induksi pada kumparan sekunder disebut dengan tegangan induksi mutual sedangkan pada kumparan primer disebut tegangan induksi diri. Tegangan tinggi pada kumparan sekunder (10000 V atau lebih) disalurkan kedistributor melalui kabel tegangan tinggi dan dari distributor diteruskan ke tiap-tiap busi sesuai dengan urutan penyalaannya sehingga pada busi terjadi loncatan api pada busi. Tegangan pada kumparan primer sekitar 300 sampai 500 V disalurkan ke kondensor. Penyerapan tegangan induksi diri oleh kondensor ini akan mengurangi loncatan bunga api pada kontak pemutus. Efek tidak terjadinya loncatan pada kontak pemutus adalah pemutusan arus primer yang cepat sehingga menghasilkan perubahan garis-garis gaya magnat pada koil dengan cepat pula.
Tabel Perbandingan Sistem Pengapian CDI dan Platina
Kelebihan Sistem Pengapian CDI
Kelebihan Sistem Pengapian Platina
  1. Tidak memerlukan penyetelan saat pengapian, karena saat pengapian terjadi secara otomatis yang diatur secara elektronik. 
  2. Lebih stabil, karena tidak ada loncatan bunga api seperti yang terjadi pada breaker point (platina) sistem pengapian konvensional.  
  3. Mesin mudah distart, karena tidak tergantung pada kondisi platina.  
  4.  Unit CDI dikemas dalam kotak plastik yang dicetak sehingga tahan terhadap air dan goncangan.  
  5. Pemeliharaan lebih mudah, karena kemungkinan aus pada titik kontak platina tidak ada.  
  6. Konsumsi bahan bakar lebih hemat, dikarenakan proses pembakaran terjadi lebih sempurna di dalam ruang bakar.

  1. Harganya murah 
  2. Penggantiannya gampang (karena murah)  
  3.  Ada gejala awal sebelum platina rusak 
  4. Sitem pengapiannya lebih sederhana

Kekurangan Sistem Pengapian CDI
Kekurangan Sistem Pengapian Platina
  1. Kumparan pengapian yang dipakai haruslah mempunyai nilai induktansi yang besar, sehingga unjuk kerjanya di putaran tinggi mesin kurang memuaskan.  
  2. Bentuk fisik kumparan pengapian yang dipakai relatif besar.  
  3. Pemakaian kontak pemutus (breaker contact) menuntut perawatan dan penggantian komponen tersendiri.  
  4. Membutuhkan Pencatu daya yang mempunyai keluaran dengan beda potensial list yang relatif rendah dan kuat arus listrik yang relatif besar. Hal ini menuntut pemakaian komponen penghubung yang mempunyai nilai resistansi serendah mungkin.
  1. Harus sering diganti.
  2. Tidak bisa rpm tinggi sebab ia masih mengandalkan tarikan gas.
  3. lebih cepat aus. Sebagus atau semahalnya platina tidak menjamin bahwa platina akan awet.
  4. rentan dengan kotoran biasanya debu dan juga air baik itu hujan atau embun.
  5. Tenaga mesin kurang dan bensin lebih boros.  
  6. Pengapian kurang stabil


BAB III
KESIMPULAN
3.1       Kesimpulan
Dari kesimpulan perbandingan diatas setiap sistem pengapian memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, semakin berkembangnya jaman maka semakin berkembang pula teknologi sehingga membuat sistem pengapian menjadi lebih baik dan menjadi lebih mudah dalam pengoprasiannya sehingga mempermudah  konsumen







Sumber :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar